Showing posts with label Media. Show all posts
Showing posts with label Media. Show all posts

Thursday, October 04, 2007

TABLOID

Awalnya…

Tabloid berasal dari bahasa latin, “tabula” yang berarti lempeng. Kalau diterjemahkan dengan pendekatan pada media, maka tabloid berarti media yang ringan dan lebih menunjuk pada bentuk dan ukuran daripada isi.

Berasal dari istilah “small tablet medicine”. Istilah yang sempat merebak pada sekitar tahun 1884 yang artinya obat atau bahan kimia yang sudah dikompres menjadi satu bagian atau suatu konsentrat.

Pada sekitar tahun 1898, tabloid yang mengambil kata dari ‘tablet’ dan diakhiri dengan akhiran –oid. Istilah tabloid digunakan pula untuk mengistilahkan sesuatu apapun yang sifatnya telah dikompres. Pada tahun 1901 mulai dikenal istilah tabloid journalism.

Awal abad 20-an, istilah tabloid kemudian muncul untuk memberi istilah pada koran yang mempunyai isi berupa berita dan artikel yang dimampatkan kedalam bentuk yang lebih sederhana, mudah dibaca dan mudah dicerna.

Tabloid berarti…

Koran dengan format kecil yang (biasanya) memberikan ilustrasi dan berita-berita yang sifatnya sensasional dan membahas tentang local interest. Pada umumnya, sebuah tabloid mempunyai berita-berita yang sifatnya juga ringan dan tidak serius, sehingga tabloid menambah kesan sebagai media yang sifatnya menghibur.
Biasanya terdiri dari 5 dan 6 kolom dengan tinggi sekitar 35 cm.


Sifat tabloid…
- Sama seperti majalah, tetapi yang membedakan tabloid tidak dijilid.
- Beritanya ringan dan mudah dicerna
- Pertama kali terbit di New York, Amerika serikat pada Juni 1919 dengan judul Illustrated Daily News yang kemudian berganti nama menjadi Daily News.
- Menampilkan banyak gambar/foto.

Kelebihan tabloid…
- Harga lebih murah daripada majalah dengan sifat isi yang hampir sama.
- Segmentasi jenis tabloid jelas, sehingga target pembaca juga jelas. Tabloid khusus wanita, khusus olahraga, dll.
- Dapat dibaca siapa saja, karena beritanya yang ringan.
- Market coverage tinggi sehingga distribusi sampai ke pelosok-pelosok.
- Dapat dibeli tanpa menjadi pelanggan
- Ukurannya lebih kecil, sehingga terkesan handy.
- Bisa dibaca dengan frekuensi panjang, karena biasanya tabloid terbit mingguan.

- Kualitas kertas yang lebih baik daripada surat kabar.


Kelemahan tabloid…
- Clutter juga tinggi, sehingga iklan tidak tersegmen dengan jelas.
- Kualitas cetak agak baik daripada surat kabar tetapi agak buruk dibanding majalah.
- Berita tidak aktual
- Medium statis, tidak dilengkapi audio video.
- Tidak dapat disimpan dengan jangka waktu yang lama. Dibanding majalah yang mempunyai kertas yang bagus dan dijilid, maka tabloid agak susah bila disimpan lebih lama.

(dari berbagai sumber)

Saturday, October 08, 2005

MEDIA LUAR RUANG



Beberapa acuan buku memasukkan poster, spanduk dan transit ad (misalnya iklan di bis/panel bis) di samping papan reklame sebagai bagian dari media luar ruang. Dalam bukunya Rhenald Kasali (Manajemen Periklanan, 1993: 133) menekankan media luar ruang adalah papan reklame.

Umumnya media luar ruang yang ditata dengan baik memberikan keuntungan ganda bagi pemda setempat. Iklan luar ruang disamping memeprcantik kota juga sumber pendapatan bagi pemerintah daerah setempat. Karena itu pegurusan media ini harus mengantongi perijinan dari dinas-dinas kota yang bersangkutan. Instansi tersebut antara lain:
- Dinas Tata Kota
- Dinas pengawasan dan pembangunan kota
- Dinas Pertamanan
- Dinas Pekerjaan Umum
- Dinas Kebersihan
- Dinas Pendapatan Daerah
- Biro Ketertiban Umum

Syarat pemasangan media ini juga mencantumkan standar ukuran reklame, tingginya dari permukaan tanah atau dari atas atap gedung bertingkat, pemakaian stempel khusus dan tidak memasang di tempat-tempat seperti jalan protocol, di sekitar pusat keramaian dan lokasi peribadatan dan sekolah. Namun seiring berjalannya waktu, rupanya yang dipaparkan Rhenald Kasali di bukunya ini justru media luar ruang membidik lokasi-lokasi yang justru dulu dilarang.

Pendirian media luar ruang juga dipengaruhi oleh sosio-kultur masyarakat setempat, di beberapa daerah seperti di Jogjakarta dan Bali, media ini mempunyai peraturan yang sangat ketat. Khususnya di Bali, tinggi papan reklame benar-benar harus diperhatikan sesuai adapt maupun kepercayaan setempat. Sedangkan di Jogjakarta, papan reklame sempat diharuskan tidak boleh dekat dengan Kraton Jogja apalagi sampai tingginya menutupi Kraton, namun (lagi-lagi) berjalan seiringnya waktu, aturan inipun agak diperlunak oleh pihak Pemda DI Jogjakarta.


Papan Reklame
Berarti poster dalam ukuran besar dan didesain untuk dilihat oleh orang yang melakukan perjalanan dengan tingkat mobilitas cukup tinggi. Papan reklame atau billboard mempunyai jenis-jenis yang biasa dipakai dalam kampanye periklanan, yaitu:
1. Poster Panels.
Lembaran kertas besar yang dicetak sesuai dengan keinginan pemesan. Dicetak dalam jumlah yang banyak untuk menghemat biaya kemudian ditempelkan pada panel besar yang dilengkapi kerangka dan bantuan cahaya lampu. Lembaran kertas ini tahan dengan perubahan cuaca dan gangguan cuaca, misalnya hujan. Jenis ini sekarang popular dengan bantuan digital printing.

2. Painted Bulletins
Langsung didesain dan digambar oleh artist dari agency di atas panel yang telah disediakan. Bisa juga dikerjakan terlebih dahulu di studio kemudian dipindahkan ke panel tersebut. Butuh kejelian mata seorang seniman lukis untuk menimbulkan detail sehingga benar-benar artistic. Jenis ini masih tetap bertahan di bioskop-bioskop untuk mempromosikan film yang sedang diputar.

Efek-efek dalam iklan luar ruang
1. Tata Cahaya
Dibutuhkan pencahayaan yang cukup atraktif untuk menimbulkan minat orang memperhatikan pesan dalam media ini.

2. Lampu latar
Beberapa pengiklan melakukan eksperimen dengan holografi yang dapat memproyeksikan efek tiga dimensi dari suatu panel atau pada panel yang lain.

3. Bentuk
Perlu eksperimen untuk memecahkan keterikatan pada sudut-sudut segi empat yang membuat penampilan media ini menjadi kaku. Dewasa ini ada yang menggunakan efek tiga dimensi dan beberapa teknik yang lain, misalnya cutting, dsb.

4. Inflatables
Menggunakan benda-benda yang digantungkan dan ditampilkan pada papan reklame sehingga efek tiga dimensi lebih terasa.

5. Gerakan
Panel-panel yang bergerak disebut kinetic board, digunakan untuk menyajikan pesan-pesan yang berbeda-beda. Satu panel yang terdiri dari dua atau tiga sisi dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang berubah-ubah sesuai dengan bergesernya khalayak sasaran yang lalu lalang di jalan raya.

Menentukan Lokasi Papan Reklame
1. Arus perjalanan
Harus jeli apakah akan dipasang di kiri atau kanan jalan. Perlu diperhatikan pula berada pada arus pulang atau arus berangkat kerja atau sekolah/kuliah.


2. Jenis Produk
Asumsinya arus berangkat adalah pada pagi hari sedangkan arus pulang adalah pada sore atau malam hari, maka iklan shampoo yang dipasang pada kiri jalan (arus berangkat kerja) dapat mengganggu karena pihak konsumen sedang tidak akan mengalami kegiatan rutinitas membersihkan badan.

3. Jangkauan
Media ini mempunyai daya jangkau yang bersifat sangat local, yakni hanya daerah di sekitar papan reklame itu sja. Karenaya, sangat penting memilih lokasi yang memiliki sudut pandang yang luas, mislanya pada ketinggian tertentu yang bebas dari halangan pandangan.

4. Kecepatan arus lalu lintas
Jika media ini dipasang di jalur bebas hambatan, maka papan reklame tersebut harus didesain sedemikian rupa agar dari kejauhan sudah terbaca dan dikenali pesannya. Pada jalur ini iklan luar ruang mempunyai efektifitas terbaca dalam tempo kurang dari tujuh detik. Jika ingin menampilkan detail maka lebih baik memilih jalur lalu lintas yang padat dan pada ketinggian menengah. Jalur padat ini misalnya pada lokasi sekitar pusat perbelanjaan, persimpangan jalan, jalan tiga jalur yang ada sekolah dengan sedikit tempat parkir atau juga jalan ‘leher botol’ yang ujungnya menyempit. Pada arus yang padat, orang dapat membaca dengan santai pada titik pandang yang dekat. Ketinggian juga diperhatikan jangan sampai orang membaca dengan kepala terlalu mendongak.

5. Persepsi terhadap lokasi
Papan reklame juga bertujuan untuk membangun citra. Jangan sampai salah menempatkan produk dengan citra yang bonafit, anggun, besar dan modern di suatu tempat yang tidak pada tempatnya dan tidak sesuai sasaran.

6. Keserasian dengan bangunan sekitarnya
Tanpa memperhatikan keserasian, papan reklame akan menjadi sampah kota yang semakin menyebabkan calon pembeli sesak napas. Papan reklame yang baik harus memperhatikan keseimbangan lingkungan yang justru dapat mempercantik kota. Iklan luar ruang harus memperhatikan 7K, yaitu: keindahan, kesopanan, ketertiban, keamanan, kesusilaan, keagamaan dan kesehatan.

Efektifitas Media Luar Ruang
1. Jangkauan
Kemampuan media menjangkau khalayak sasaran. Pada media luar ruang, factor ini bersifat local, artinya hanya mampu menjangkau daerah di sekitarnya saja. Hal ini terjadi karena dalam hal bepergian, ternayata manusia sering hanya menggunakan satu jalan dan tidak pernah berganti rute kecuali jika ada gangguan.

2. Frekuensi
Kemampuan media mengulang pesan iklan yang sama terhadap khalayak sasaran saat mulai dilupakan.

3. Kontinuitas
Kesinambungan media menyampaikan pesan iklan sesuai dengan tuntutan strategi periklanan.

4. Ukuran
Kemampuan media memberikan ukuran yang dituntut oleh pesan iklannya. Memiliki kemampuan tampil dengan mencolok dan tiba-tiba.

5. Warna
Kemampuan media menyajikan tata warna yang dituntut oleh suasana yang dikehendaki pada saat pesan iklan disampaikan.

6. Pengaruh
Kekuatan pesan iklan yang kreatif dengan tata letak yang fungsional dalam hal menjual dirinya kepada khalayak sasaran. Pesan harus singkat dan ditampilkan secara jelas. Harus dapat dibaca setidaknya dalam tujuh detik. Menggunakan huruf yang mudah terbaca dari jarak relative jauh. Menggunakan warna yang tepat sebagai pembantu.

Beberapa kendala sebagai kelemahan:
1. Papan reklame efektif bagi pengendara sepeda motor.
2. Papan reklame efektif bagi mereka yang duduk di jok depan kendaraan roda empat.
3. Papan reklame menjadi sangat efektif di negara maju, karena semakin banyak orang yang mengemudikan sendiri kendaraannya.
4. Di Indonesia, sopir terekspose oleh papan reklame sedangkan si boss asyik baca Koran.
5. Bis dan kendaraan umum lainnya tidak memberikan ruang pandang yang cukup bagi penumpangnya.


sumber: Rhenald Kasali, Manajemen Periklanan, 1993, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti, Cetakan Ketiga.


Wednesday, October 05, 2005

INOVASI MEDIA RUANG LUAR DALAM URBAN DESAIN

Oleh: Mohammad Danisworo (Laboratorium Pusat Studi Urban Desain, Departemen Arsitektur, Institut Teknologi Bandung)

PETER Drucker (1992) menyatakan pada awal tahun 1990-an bahwa basis utama faktor produksi pada tatanan Ekonomi Lama yaitu lahan, tenaga kerja, dan modal akan diambil alih oleh faktor baru yaitu informasi, pengetahuan, dan teknologi.
Pada saat ini, proses transformasi sedang berlangsung dengan pasti dari tatanan Ekonomi Lama ke tatanan Ekonomi Baru, dari penekanan pada kegiatan memproses sumber daya produksi yang bersifat fisik kepada penekanan kegiatan memproses sumber daya yang berbasis pada informasi dan pengetahuan.Dalam kondisi pasar yang semakin hiperkompetitif, persaingan pasar berlangsung dengan memanfaatkan pengetahuan, informasi, dan teknologi sebagai basis operasi. Oleh karena itu, kelangsungan dari keunggulan kompetitif (competitive advantage) suatu usaha akan sangat tergantung kepada kapasitas inovatif yang dimiliki usaha tersebut.

Peluang yang diberikan oleh tatanan Ekonomi Baru ini telah dimanfaatkan para pelaku bisnis yang secara jeli melihat potensi ruang kota sebagai media logis untuk menyampaiakan pesan-pesannya kepada masyarakat luas. Mereka juga melihat dengan memadukan secara sistematis serta inovatif materi informasi yang ingin disampaikan ke dalam lanskap kota, mereka akan dapat secara mudah menjaring jumlah peminat yang cukup besar atas produk-produk yang mereka peragakan dengan harapan pada akhirnya di antara para peminat tersebut, dalam jumlah cukup signifikan, akan mengambil keputusan untuk membeli.Ruang kota dan maknanya ruang kota memang dapat dikiaskan sebagai sebuah buku atau majalah berukuran raksasa, di mana segmen-segmen ruang kota dapat disamakan dengan lembar-lembar halaman.

Setiap segmen kota yang kita lalui menyuguhkan informasi kepada kita dan setelah melalui beberapa bagian ruang kota, maka kita mendapatkan serentetan informasi yang berbeda-beda, ada yang menarik dan ada yang membosankan.Berbeda dari buku atau majalah di mana untuk membaca isinya kita harus membuka halaman demi halamannya, maka pada ruang kota halaman-halaman itu terbuka dengan sendirinya bagi kita dan menyodorkan isinya langsung ke hadapan kita pada saat kita melaluinya. Pada akhir perjalanan, maka kita mendapatkan banyak pelajaran dan pengetahuan tentang isi ruang kota.Dengan pengertian tentang potensi yang dimiliki ruang kota ini, maka tidaklah mengherankan bila komunitas media, yaitu perusahaan media, agen periklanan dan produsen, berangsur-angsur menjadi semakin sensitif terhadap kapasitas yang dimiliki oleh ruang kota.

Mereka berlomba dengan berbagai cara untuk mendapatkan lokasi strategis di dalam kota bagi penempatan titik-titik media ruang luarnya. Iklan memang merupakan alat yang tangguh bagi penyebaran informasi untuk kepentingan pemasaran. Alat ini akan menjadi semakin kuat pengaruhnya apabila ditempatkan pada sudut-sudut kota yang dapat memberi kesempatan kepada publik untuk mendapatkan akses visual yang baik ke arah sumber informasi tersebut.Bisnis media ruang luar memang cukup menggiurkan karena melibatkan anggaran biaya sangat besar. Dampaknya mudah diduga yaitu tumpang-tindihnya titik-titik reklame di areal strategis tetapi sempit, atau bertebarannya papan reklame secara acak dengan ukuran beragam dan cenderung semakin besar sepanjang jalan utama kota. Kenyataan ini semakin menjadi jelas pada kota-kota yang tidak memiliki instrumen yang mengatur penataan titik reklame serta penyebarannya di dalam ruang kota.

Keberadaan papan-papan reklame tanpa penataan yang konseptual memang merupakan bumerang bagi kualitas visual kota. Di satu sisi, kehadirannya memberi akses kepada informasi bagi masyarakat luas kota serta memberi kontribusi positif bagi pendapatan asli daerah, namun pada sisi lain keberadaannya di ruang kota sering cenderung menghalangi pandangan ke arah elemen-elemen kota yang justru menarik dinikmati seperti arsitektur bangunan, unsur lanskap kota, dan sebagainya. Akibat hal tersebut adalah merosotnya kualitas visual kota karena ruang kota dilanda polusi papan reklame yang berlebihan.

Perlu diketahui, salah satu aspek penting yang menentukan kualitas desain urban adalah kualitas visualnya. Artinya, kota itu harus memiliki keindahan, baik yang bersifat alami maupun buatan, memiliki jati diri yang kuat, informatif dan tidak membingungkan. Kualitas visual ini dibentuk oleh komposisi urban desain dari elemen-elemen ruang kota seperti arsitektur bangunan serta konservasi bangunan tuanya, estetika taman kota dan arsitektur lanskapnya, geometri jalur jalannya, serta unsur infrastruktur pendukungnya seperti jembatan penyeberangan orang dan jembatan layang.

Elemen-elemen desain urban ini merupakan materi informasi yang terkandung di dalam lembar-lembar buku raksasa kota yang bercerita tentang ruang dan waktu. Alangkah menyedihkan apabila cerita indah tentang kota itu dikacaukan oleh kehadiran elemen media ruang luar yang berantakan, tidak saja bidang bidang luas reklame tersebut menghalangi pandangan ke arah elemen kota yang bagus, tetapi kaki-kakinya juga merebut ruang publik dan mendesak pejalan kaki ke badan jalan untuk bersaing ruang dengan kendaraan bermotor. Sungguh merupakan sebuah story book (buku cerita) yang menyedihkan.

Memang tidak semua sisi dari aspek visual kota itu menarik dilihat, bahkan barangkali lebih banyak lagi yang tidak sedap dipandang sehingga merupakan ganjalan di dalam mata.Banyak dari sisi bangunan gedung yang lebih berwujud sebagai dinding mati dan memiliki kinerja visual yang buruk untuk dipandang, akan tetapi justru menempati sudut pandangan strategis dalam ruang kota.Di Jakarta banyak terdapat kerangka-kerangka gedung yang terlantar akibat krisis ekonomi berkepanjangan yang tidak menentu nasibnya kapan akan diselesaikan pembangunannya. Hampir semua menempati lokasi-lokasi prima dan strategis di ruang kota, namun ungkapan yang dapat ditarik dari kehadiran elemen kota yang tidak selesai tersebut adalah cerita sedih dari luka ekonomi bangsa yang dalam.

Namun, haruskah kita terus bersedih. Bisakah kita mengubah masalah visual ini menjadi suatu potensi untuk menjadikan wajah kota menjadi lebih bergairah dan ceria. Ini adalah tantangan bagi para pakar desain urban, pemerintah kota, dan pelaku bisnis media ruang luar untuk menemu kenali potensi yang dikandung oleh elemen "ganjalan mata" ini.Teknologi selubung pembungkusKenyataan yang mirip juga dialami kota-kota besar lain di dunia. Era Ekonomi Baru yang berbasis pada sistem informasi dan pengetahuan telah mendorong pencarian serta penciptaan berbagai bentuk medium yang bisa dipakai sebagai basis penyebaran informasi.

Dengan dibantu pakar komunikasi visual, pelaku bisnis media ruang luar mulai melihat sisi buruk dan tidak produktif dari wajah kota dapat disulap menjadi komponen yang produktif dengan cara menyulamkan pesan komersial sebagai bagian integral dari elemen kota yang sudah ada.Mengingat besarnya elemen bangunan, maka ukuran bidang informasi yang disuguhkan pun harus berukuran super besar sehingga pengaruh yang dihasilkannya juga berdampak besar.Wacana ini juga telah menggugah kreativitas para artis grafis untuk menjadikan poster raksasa sebagai karya seni dan budaya yang sekaligus menjadikan ruang kota sebagai galeri seni raksasa.

Penemuan teknologi cetak untuk large images (gambar besar) dengan kualitas yang menghasilkan kesan gambar yang hidup serta hasil pengembangan teknologi wrapping (selubung pembungkus) untuk bidang super besar dan luas telah menjadikan wacana tadi suatu kenyataan.Kelebihan cara penyajian informasi ini dibanding dengan sistem billboard yang konvensional adalah bahwa meskipun gambar yang disajikan berukuran raksasa, namun kehadirannya tidak menghalangi pandangan ke elemen-elemen ruang kota yang ada karena ia merupakan bagian integral dari elemen-elemen kota yag sudah ada yaitu gedung-gedung itu sendiri.

Selain itu, keberadaannya juga tidak mengusik trotoar yang ada yang menyebabkan pejalan kaki harus tersingkir ke jalur mobil. Tata informasi ini bila diterapkan secara inovatif bahkan dapat memperkaya khazanah urban desain kota.Aplikasi nyata teknologi wraping telah dilakukan di beberapa kota dunia, antara lain di New York City, Munich, dan Sydney. Di kota New York teknologi ini disesuaikan dengan kondisi bidang bangunan yang ditutup di mana tampak antara lain dari jendela-jendela bangunan yang masih dapat berfungsi seperti adanya. Begitu juga di kota Munich, Jerman, wrapping secara penuh dilakukan pada kerangka bangunan. Sedang di Jalan Thamrin, Jakarta, teknologi wrapping belum mendapat perhatian sewajarnya, terlihat antara lain pada wacana yang memanfaatkan kerangka struktur bangunan Westin Hotel dan sosok gedung Chandra yang terlihat terlantar.***

sumber: http://bergerilya.blogspot.com

MEDIA T-SHIRT


Apa Kata Kaos Oblong
Asal katanya adalah “shirt”. Kata imbuhan “T”, konon dikarenakan oleh bentuknya yang menyerupai huruf “T”. Maka jadilah “T-shirt”. Di Indonesia, kata “T-shirt” diterjemahkan menjadi “kaos oblong”. Terjemahan ini pun tidak terlepas dari sejarah perjalanan kaos itu sendiri. Dalam Kamus Indonesia-Inggris Hassan Shadily (1997) menyamakatakan “kaos oblong” dengan kata “kaos dalam”, “singlet”, dan “undershirt”.

Sejarah T-Shirt
Dulu benda ini yang tidak jelas siapa penemunya ini hanya dipakai sebagai pakaian dalam oleh kaum pria. Ketika itu warna dan bentuknya (model) itu-itu melulu. Maksudnya, benda itu berwarna putih, dan belum ada variasi ukuran, kerah dan lingkar lengan. T-shirt alias kaos oblong ini mulai dipopulerkan sewaktu dipakai oleh Marlon Brando pada tahun 1947, yaitu ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya Tenesse William di Broadway, AS. T-shirt berwarna abu-abu yang dikenakannya begitu pas dan lekat di tubuh Brando, serta sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. Pada waktu itu penontong langsung berdecak kagum dan terpaku. Meski demikian, ada juga penonton yang protes, yang beranggapan bahwa pemakaian kaos oblong tersebut termasuk kurang ajar dan pemberontakan.

Tak pelak, muncullah polemik seputar kaos oblong. Polemik yang terjadi yakni, sebagian kalangan menilai pemakaian kaos oblong – undershirt – sebagai busana luar adalah tidak sopan dan tidak beretika. Namun di kalangan lainnya, terutama anak muda pasca pentas teater tahun 1947 itu, justru dilanda demam kaos oblong, bahkan menganggap benda ini sebagai lambang kebebasan anak muda. Dan, bagi anak muda itu, kaos oblong bukan semata-mada suatu mode atau tren, melainkan merupakan bagian dari keseharian mereka.

Polemik tersebut selanjutnya justru menaikkan publisitas dan popularitas kaos oblong dalam percaturan mode. Akibatnya pula, beberapa perusahaan konveksi mulai bersemangat memproduksi benda itu, walaupun semula mereka meragukan prospek bisnis kaos oblong. Mereka mengembangkan kaos oblong dengan pelbagai bentuk dan warna serta memproduksinya secara besar-besaran. Citra kaos oblong semakin menanjak lagi manakala Marlon Brando sendiri – dengan berkaos oblong yang dipadu dengan celana jins dan jaket kulit – menjadi bintang iklan produk tersebut. Mungkin, dikarenakan oleh maraknya polemik dan mewabahnya demam kaos oblong di kalangan masyarakat, pada tahun 1961 sebuah organisasi yang menamakan dirinya “Underwear Institute” (Lembaga Baju Dalam) menuntut agar kaos oblong diakui sebagai baju sopan seperti halnya baju-baju lainnya. Mereka mengatakan, kaos oblong juga merupakan karya busana yang telah menjadi bagian budaya mode.

Demam kaos oblong yang melumat seluruh benua Amerika dan Eropa pun terjadi sekita tahun 1961 itu. Apalagi ketika aktor James Dean mengenakan kaos oblong dalam film “Rebel Without A Cause”, sehingga eksistensi kaos oblong semakin kukuh dalam kehidupan di sana. Di Indonesia, konon, masuknya benda ini karena dibawa oleh orang-orang Belanda. Namun ketika itu perkembangannya tidak pesat, sebab benda ini mempunyai nilai gengsi tingkat tinggi, dan di Indonesia teknologi pemintalannya belum maju. Akibatnya benda ini termasuk barang mahal.

Namun demikian, kaos oblong baru menampakkan perkembangan yang signifikan hingga merambah ke segenap pelosok pedesaan sekitar awal tahun 1970. Ketika itu wujudnya masih konvensional. Berwana putih, bahan katun-halus-tipis, melekat ketat di badan dan hanya untuk kaum pria. Beberapa merek yang terkenal waktu itu adalah Swan dan 77. Ada juga merek Cabe Rawit, Kembang Manggis, dan lain-lain. Selanjutnya, tidak hanya di Amerika dan Eropa, di Indonesia pun kaos oblong sudah menjadi media berekspresi. Kaos oblong yang berwarna putih itu diberi gambar vinyet, dan waktu itu sempat menjadi tren/mode di kalangan anak muda Indonesia, tapi tidak lama. Berikutnya vinyet digeser oleh tulisan-tulisan yang berwarna-warni. Tekniknya sepeprti sablon.

Selain itu, ada juga gambar-gambar koboi, orang-orang berambut gondrong, dan lain-lain. Warna bahan kaos oblong pun sudah semarak, yaitu merah, hitam, biru kuning. Dan, tren kaos oblong rupa-rupanya direkam pula oleh Kartunis GM Sudarta melalui tokoh Om Pasikom dan kemenakannya dengan tajuk “Generasi Kaos Oblong” (Harian Kompas, 14 Januari 1978).

Oleh : Agustinus Wahyono
sumber : www.kaos-oblong.blogspot.com
(Indra Darmawan)

Friday, September 30, 2005

MEDIA TELEVISI


Menekan tombol televisi tidak menunjukkan bahwa saya ingin menonton,
tapi melainkan apa saja……
( Bansinger , Via Morley 1988 : 29)

Televisi bagai anak pertama dalam keluarga serba menjadi pusat perhatian
( Garin Nugroho , Sutradara film)


Televisi insight
- Program Acara
- Gaya Menonton
- Tingkat Perhatian / Atensi
- Lingkungan / ruang

Introduction
- Televisi baru dikenal di Indonesia tahun 1962, dalam rangka Sea Games IV di Jakarta ------fungsi hanya sebagai perluasan radio saja.
- Mulai 1 Maret 1963 siaran dimajukan dari pukul 19.30-21.30 menjadi 19.00 – 21.30 muncul model Titi Qadarsih iklan skuter Lumbretta-------iklan tv masih dibatasi 15 %.
- 1 April 1981 iklan televisi ditutup total SK MenpenRI/30/1981.
- Televisi sistem kabel muncul Desember 1988 RCTI mengudara radius 80 km persegi.
- 26 Agustus 1990 televisi mengudara secara umum tanpa sewa dekoder dan abonemen, diiringi SCTV lahir di Surabaya.

Bagaimana orang menonton televisi ?
(Peter Colllett, psikolog Inggris)

Selama menonton televisi orang melakukan apa saja mulai membaca, berbincang-bincang, bercanda, menjahit, merajut, membersihkan sesuatu, mengeringkan rambut, menekan remote mencari channel lain.
Bisa terjadi hal diatas karena :
- Sifat Iklan cermin sifat produknya.
- Sifat khalayak tidak mau disuguhi iklan.
- Posisioning iklan disaat penyiaran dan program acara yg disela.
- Perhatian pemirsa kadang ditentukan orang lain , semakin banyak orang yang menonton perhatian semakin kecil.
- Adegan menarik iklan masuk----kemungkinan iklan dilihat.

Tipologi menonton televisi
- Menonton Televisi adalah tindakan menjalin,
dan atau memutuskan ikatan inter personal.
- Menonton televisi adalah mendapatkan beraneka ragaman
pengalaman, bersantai, belajar, bermain, mengasuh dsb.
- Kehadiran suara sbg suara latar ( background noise) menjadikan
- Televisi sbg teman setia.
- Tindakan mengelola kekuasaan

Kekuatan Media Televisi
- Efisiensi Biaya
Televisi media yang paling efektif
(jangkauan dibanding media lain seperti Radio, Media Cetak).
- Dampak yang Kuat
Keunggulan kemampuan dilihat dan didengar (audio/visual)
- Pengaruh yang Kuat
Televisi sbg media yang paling kuat di rumah selesai dari kesibukan dan kepenatan meluangkan waktu.

Kelemahan Media Televisi
- Biaya yang Besar
Biaya besar mulai pre-produksi sampai produksi .
- Khalayak Tidak Selektif
Segmentasinya tidak setajam radio atau media cetak.
- Kesulitan Teknis
Iklan –iklan tidak bisa luwes dipindah jam tayang karena kepadatan program acara televisi.

Bentuk –bentuk iklan televisi
1. BLOCK TIME
Sebuah produk membeli acara pada jam tertentu dimana otomatis iklan-iklan dominasi produk tsb ( Gebyar BCA, Telkom Mania)
2. SPONSORSHIP
Sebuah produk mensponsori acara tertentu yang karakter produk sama---- Djarum Liga Italia, Inggris.
3. PARTISIPASI / PROMOSI
Iklan masuk pada program acara durasi 5, 15,30,45,60 detik
4. PSA (Public Service Announcement)
Iklan Layanan Masyarakat /Non Komersial.
5. SPOT
Iklan saat acara berlangsung , sebelum dan seudahnya.
6. SUPERIMPOSE
Iklan 10 “ seperti running teks,animasi produk.
7. BREAK BUMPER
Iklan sebelum acara dimulai dan sesudah acara.

RCTI
1989 : peluncuran perdana RCTI dengan decoder
1991 : Penggunaan decoder dicabut
1999 : manajemen RCTI mengalami pergantian
2002 : Hak siar piala Dunia 2002
2004 : Hak siar piala Eropa 2004

SCTV
1990 : SCTV Lahir jangkauan Surabaya
1993 : SCTV Nasional
1996 : Muncul Program Liputan 6
2006 : Stasiun Resmi Piala Dunia

TRANS TV
2001 : Trans TV lahir
2002 : Rangking 4 stasiun Nasional
2002 : Bajaj Bajuri tayangan Andalan
2005 : Coverage Area hingga 32 kota besar.

TPI
1991 : TPI lahir
1997 : Indosat bergabung
2002 : TPI melaunching logo baru
2003 : Indosat hengkang
2003 : TPI Gabung Bimantara Group.

INDOSIAR
1995 : Indosiar Lahir
1998 : Meraih Asian TV Awards
2004 :Trensetter Konser AFI

METRO TV
2000 : Mulai siaran 12 jam di 4 kota
2001 : Siaran 24 jam
2004 : Stasiun the election channel
Jan-Sep 2004 : Program Movie rating-rating tertinggi.

Teknik Visual dalam Iklan Televisi
1. Spokesperson
Seseorang didepan kamera langsung membawa iklan .
2. Testimonial
Seseorang yang dikenal/public figure memberi kesaksian/jaminan suatu produk.
3. Demonstration
Manfaat produk dijelaskan detail ( sabun cuci)
4. Close Up
Close up Indomie yang telah dimasak dan masih terlihat kepulan asap untuk segera disantap.
5. Story Line
Mirip teknik membuat film pendek/ komik strip . Kronologis sebuah produk dgn gaya tutur iklan mirip sepenggal film.
6. Direct Product Comparison
Perbandingan dua produk langsung.
7. Humor
Gaya ini disukai copywriter tapi beresiko kalau penggarapan humor kelewatan ----- citra/image produk.
8. Slice of Life
Penggalan dari adegan sehari-hari bisa di kantor,rumah,mal .
9. Customer Interview
Gaya reporter (Datang di lokasi wawancara ttg produk)
10.Vignettes atau Situations
Iklan dengan sejumlah orang sedang menikmati produk(makanan,minuman,permen) dengan tambahan suasana yang mendukung mis. Adegan minum , musik , dan gerakan slow motion pd waktu minum.
11.Animation
Animasi kartun .
12.Stop Motion
Iklan muncul tiba-tiba stop motion terus gerak lagi.
13.Rotoscope
Gabungan Animasi dgn gambaran nyata.
14.Combination
Gabungan dua atau tiga teknik diatas


(dari berbagai sumber)

Thursday, September 29, 2005

MEDIA RADIO

RADIO
CREATES
IMAGE IN THE IMAGINATION OF
THE
LISTENER
WRITE AS YOU SPEAK, NOT AS
YOU WRITE


Masing- masing media punya karakter yang berbeda-beda dan menjangkau kelompok audience yang berbeda-beda.

Bukan hanya tiras, tapi karakter audience dan kualitas segmen sangat menentukan efektifitas iklan.


Aspek-aspek dalam sebuah iklan:
-Pilihan Media
-Pilihan Waktu
-Pilihan Tempat
-Pilihan Ukuran
-Pilihan Frekwensi
-Pilihan Daya Tarik/kreatifitas


RADIO di Indonesia
Amerika Serikat hanya 13.000 radio ( Cakram edisi khusus Radio )

PRSSNI 800 anggota
ARSI 50 anggota
RSPD 150-an anggota
9000 lebih - RKPD, STRADA, Radio Gelap


Sedikit Brief ^^
Persaingan di industri radio yang begitu ketat bukan hanya terjadi saat ini. Jumlah radio meningkat dari sekitar 800 pada tahun 2000 menjadi sekitar 1.800 stasiun radio pada 2007 termasuk radio komunitas, radio pemerintah daerah serta radio tak berizin. Sayangnya, jumlah radio yang bertambah tidak diikuti dengan penambahan
persentase kue iklan. Ketika televisi meraih kue iklan nasional di atas 60 persen, selama tiga tahun berturut-turut perolehan iklan radio berada di angka lima persen dari kue iklan nasional.
Dari jumlah radio yang ada, hanya sekitar 20 persen yang hidup sejahtera.



Ada tiga buah alasan yang menjadi faktor-faktor yang mendukung siaran radio, antara lain adalah :

1.Radio siaran bersifat langsung
Pesan yang akan disiarkan dapat dilakukan tanpa proses yang rumit. Jika dibandingkan dengan penyiaran pesan melalui surat kabar, brosur, pamflet atau media cetak lainnya yang selain lama prosesnya juga tidak mudah menyebarluaskannya

2.Radio siaran tidak mengenal jarak dan rintangan
Radio siaran mempunyai sifat yang cukup luas menjangkau daerah manapun.
Hal ini tercantum dalam dalam salah satu karakter radio sebagai coverage area luas.
Teknologi yang digunakan sangat memungkinkan mengatasi hambatan geografis, cuaca maupun waktu.
Apalagi dengan perkembangan teknologi satelit yang semakin membuat penyebaran siaran radio menjadi lebih mudah sehingga hal ini bisa memungkinkan terjadinya mass distributor
yaitu siaran radio dapat dinikmati oleh banyak pendengar bersama dan serentak, dan hal ini tidak mungkin dilakukan oleh media cetak.

3. Radio siaran memiliki daya tarik
Radio mempunyai unsur daya tarik tersendiri karena ada tiga hal yang menyebabkannya demikian, antara lain : a.kata-kata lisan (spoken words); b.musik (music); c.efek suara (sound effect)

Dari ketiga hal diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kata-kata lisan dapat membangun efek theatre of mind. Radio hanya menampilkan suara, sehingga bisa menumbuhkan akibat lain bagi pendengarnya, yaitu imajinasi.
Imajinasi yang biasanya muncul di benak pendengar adalah permainan sound effect yang bisa menciptakan suasana visual pendengarnya. Selain itu pengaturan musik pada siaran radio diharapkan dapat lebih memikat pendengarnya mengingat radio adalah media selintas dengar maka penyampaian informasinya harus banyak menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siapapun yang mendengarnya


Pentingkah Iklan Radio?
Dari masa ke masa, peranan radio selalu penting. Bermunculannya berbagai media elektronik, termasuk maraknya Internet pun, tidak menenggelamkan radio sebagai salah satu media pilihan konsumen.

Karenanya, iklan di radio tetap perlu untuk dipertimbangkan dalam integrated marketing communication (IMC) sebuah brand campaign.

Kelebihan lain dari radio adalah lebih singkatnya waktu untuk mempersiapkan
materi iklan. Materipun bisa dikemas/dibawakan dengan gaya bahasa sedemikian rupa sehingga sesuai dengan selera pendengar lokal.

Iklan radio yang efektif adalah yang mampu melibatkan pendengarnya.
Engagement bisa diperoleh dari pemilihan kata-kata yang menarik atau humoris, dari
komponen musik dan dari sound effect lainnya.

Adakalanya, radio setempat juga menawarkan jasa untuk membacakan script iklan oleh penyiarnya. Ini bagus, karena mampu menepis kebosanan pendengar yang lelah dijejali iklan yang bertubi-tubi. Dengan gaya tersendiri, penyiar membacakan script iklan dengan renyah
dan dibumbui cerita-cerita keseharian, sehingga lebih merasuk ke benak pendengar.

Hanya saja, harus tetap dilakukan suatu monitoring khusus, untuk meyakinkan bahwa penyiar tidak terlalu jauh memodifikasi script yang dikemas untuk brand.

Karena harganya yang relatif lebih murah, iklan radio bermanfaat untuk meningkatkan frekuensi eksposure sebuah campaign. Dengan tingginya frekuensi, awareness terhadap pesan yang disampaikan melalui media radio akan dengan cepat dibangun.

Yang perlu diperhatikan adalah adanya sinergi antara pesan brand yang disampaikan lewat media radio dengan pesan brand yang disampaikan di media lainnya.

Jangan sampai masing-masing media menyampaikan hal yang tidak berhubungan, bahkan bertentangan.


Kelebihan Media Radio
-Murah (biaya produksi dan placement)
-Ketajaman Penetrasi ( sinyal kuat pendengar dari jarak jauh)
-Waktu Transmisi tak terbatas ( mengudara 24 jam)
-Imajinatif ( suara/vocal, musikal)
-Tidak memerlukan perhatian terfokus ( sambil berkendara dll)
-Bersifat Mobile ( bisa dibawa kemana saja)
-Teman Setia ( teman rasa sepi )
-Pengganti televisi ( tidak bisa lihat televisi )
-Media Intrusif ( efektif memutuskan, menyela info baru )
-Bukan media musiman ( memiliki pendengar tanpa terpengaruh musim)
-Sub-urban coverage ( jangkauan yang tidak terjangkau tv, media cetak)

Kelemahan Media Radio
-Lack of pictures (pengiklan tidak bisa demonstrasikan produknya)
-Radio menyiarkan iklan sekilas (perlu pengulangan)
-Bersifat terbagi ( pengiklan tumpang tindih menjangkau pasar)
-Local Area service ( menjangkau daerah tertentu tergantung radionya)
-Sulit dimonitor.

Kiat membuat iklan radio
-Buatlah pendengar “melihat” apa yang anda sampaikan
-Gunakan kata-kata sederhana biasa terdengar setiap hari
-Hindari kata-kata salah dengar atau salah arti
-Gunakan Sound Effect (SFX) produk yang sedang “Action”
-Ramukan jingle,dialog, penyiar, SFX, musik sefektif mungkin.
-Sesuaikan dengan gaya station radio yang dipilih
-Variasikan tema jingle bisa nge’rock, dangdut, R&B, pop, dll
-Adlips (berita/iklan dari suara penyiar)
-Spot promo (iklan promosi produk)
-Wawancara langsung .

Menilai iklan radio yang baik
(jeanny hardono---Dentsu )
1. Apakah Idenya sudah efektif untuk radio ???--------banyak ide visual dipaksakan menjadi iklan radio .
2. Apakah cukup relevan basik dengan pesan maupun target audience?
3. Apakah cukup Radikal ? Bisa menonjol iantara hiruk pikuk iklan dan acara radio ?
4. Crafting Copy yang cerdas (edit, edit, edit…..sampai perfect…).

SEGMENTASI RADIO
Ardan ( hiburan )------ Remaja (15-24 th)
ARH (hiburan & info)------ Profesional 25 – 35 th)
Colors Radio ( Musik Unik + Hiburan)---- Umum 20-30 th
Cosmopolitan ( Gaya Hidup, Bisnis)------Wanita 28 – 30 th
ELshinta ( Berita/Informasi)------Politisi , umum SES A,B.
Female ( Gaya hidup + Hiburan)-----Wanita SES A, B
Hard Rock (Gaya Hidup + Hiburan)------Anak Muda 20-30 SES AB
SC FM ( Informasi, GH, Hiburan) ------Umum 25 – 35 th.
Suara Surabaya ( Berita dan Informasi)---- Umum 25 – 35 th SES A,B
Pas FM ( Bisnis)----Prefesional 25 – 35 th SES AB.
OZ ( Hiburan, Gaya Hidup)-----Anak Muda 14 – 29 th SES B-, A+
MTV on the sky ( Gaya Hidup)------ 15 -23 th, SES A, B.
Mercury ( Informasi, infotaintment)----- SES tertentu, Umum, SES B+

Daya Tarik Radio
Di luar rumah ??
(Riset Cakram edisi Radio 2004)
BANDUNG
• Rumah ( 86 %)
• Mobil ( 3 %)
• Tempat kerja ( 1 %)
• Tempat Lain ( 11 %)
JAKARTA
• Rumah ( 79 %)
• Mobil ( 4 %)
• Tempat kerja ( 6 %)
• Tempat Lain ( 11 %)

SEGMENTASI RADIO di SURABAYA
Colors Radio (hiburan Anak muda) ------- Casual ‘n Fun, Sex Room
DJ FM Radio ( Hiburan Anak Muda) ---- Wake Up Get Up, Time Traxx.
EBS FM ( Musik dan Informasi)--- Hot 40, Agenda Pagi, Afternoon Show
Global FM ( Radio Keluarga) ---- Global evergreen, Global Mandarin.
Hard Rock ( Hiburan Anak Muda) --- Drive’n Jive, Guys Talk, Rock The Night.
Kota ( Radio Dangdut)---- Seputar Kota, Dendang Surabaya, Dangdut Mania.
Mercury ( (Berita dan Hiburan) --- Mercury Hot News, Mercury Oldiest.
SCFM ( Berita dan gaya HIdup)---- Indonesia First Channel, SurabayaFC.
Suara Surabaya ( Radio Informasi)--- Kelana Kota, Dialog Interaktif.
Suzana ( Hiburan dan Berita Ringan)– Opini Pagi, Tria Burulu, Suegele lek.


Radio Jaringan di Indonesia

Jaringan merupakan salah satu konsep yang diusung radio-radio swasta guna merebut hati pendengar dan pengiklan.

Selain jaringan, konvergensi media juga menjadi daya tarik tersendiri bagi radio. Bagaimanakah radio menyikapi persaingan yang kian ketat lewat jaringan dan konvergensi media saat ini.

Radio jaringan menjadi pilihan karena memiliki sejumlah kelebihan. Radio yang memiliki keterbatasan jangkauan siar, berkat jaringan keterbatasan tersebut bisa diatasi. Lewat jaringan siaran radio di suatu daerah dapat didengar di daerah lain. Begitu pula iklan di satu radio bisa didengar di radio-radio lain sesuai dengan keinginan pengiklan.

NETWORKING RADIO
Gajahmada Group --- Gajahmada FM, Imelda FM, Makhkota Cendrawasih ( Semarang)
Trijaya Group ---- Trijaya FM jkt, Smg, ARH Jkt, Prapanca Medan, SCFM.
Bens Radio ---- Krakatau Am, Gaswara FM, Metro FM Sby, -----punya alm. Benyamin S
Delta Female --- Delta FM Jkt, Sby, Delta FM Medan, Female FM Jkt, Bandung.
Surya Suara Mediatama – Hard Rock FM jkt, bandung, Sby, Bali. MTV Sky semua.
Rasika Group ---- Rasika FM, Borobudur FM, Amarta FM, Kendal Citra FM.
Suzana Group ---- Suzana FM, Suara Merdeka FM, Bahtera Yudha FM, Puspita FM dll)
Smart FM ---- Smart FM, Manado FM, Smart FM Smg dll
Dirgantara --- Makobu Malang , Kosmopolitan, Colors Radio, Radio Pesona dll.

Info tambahan dari ibu Metta - MNC Networks:
For Your Info :
Mercury FM tidak pernah tergabung dalam jaringan Trijaya .
saat ini Trijaya FM memiliki 11 Radio Jaringan mulai Medan sampai Manado
mempunyai adik radio Dangdut TPI di 6 Kota besar mulai Medan, Jakarta, Bandung, Tulungagung,Pekanbaru...
Demikian informasi ini semoga bermanfaat

Metta - MNC Networks


Radio dan Internet
Disamping perkembangan arus segmentasi dan positioning yang menjadi semakin ceruk, industri radio secara teknologi juga telah menyambut kehadiran siaran radio lewat satelit yang dikelola oleh World Space Management.

Pada sisi lain, seiring dengan merebaknya pertumbuhan industri internet, sejumlah stasiun radio mulai mengintegrasikan siarannya dalam jaringan internet, sehingga bisa diakses oleh
para pengguna internet secara global. Pelopornya antara lain Prambors FM, dan RRI Pro2 Jakarta.

Bagaimanapun juga, sinergi antara stasiun radio dengan internet, akan menawarkan sebuah bentuk siaran yang atraktif -multimedia.


Beberapa Istilah yang digunakan dalam proses pembuatan Iklan Radio:

FVO : Female Voice Over
MVO : Male Voice Over
SFX : Sound Effect
Anncr: Announcer
AM : Amplitude Modulation (25 miles)
FM : Frequency Modulation (50 miles)
Ad Lips, Jingle....etc

(dari berbagai sumber) * revised October 22nd, 2007*

ZINE: MEDIA ALTERNATIF


Saat awal tahun 1997-an di Indonesia, gaya hidup yang merebak saat itu adalah gaya underground yang secepat kilat menjadi acuan mode dan musik di kalangan anak muda. Punk adalah acuan musik yang saat itu berkembang.Greenday menjadi populer sebagai semangat ber-underground sebagai bagian dari counter culture/budaya perlawanan.

Tipe underground yang mencolok adalah antikemapanan, menentang mainstream/media yang besar dan terkenal, antisosial, keluar dari batas dan antitren.
Karena tipe di atas tadi, maka untuk menunjukkan jati dirinya secara benar tanpa di’plintir-plintir’ oleh pers yang mainstream, maka mereka membuat media sendiri yang biasanya dikerjakan secara independent atau istilahnya adalah D.I.Y (Do It Yourself).
Media inilah yang kemudian disebut sebagai media indie/media perlawanan dari pengaruh mainstream. Bahasa musiknya adalah indie label.

Media indie awalnya dikenal sebagai zine.
Zine dapat disebut sebagai versi lain magazine atau bentuk lebih sederhana dari magazine. Sering juga disebut fanzine atau zine yang dibuat oleh fan/penggemar/simpatisan.
Apa itu fanzine? Misalnya ada seseorang yang menyukai tentang jam jam antik, maka dia bisa membuat fanzine tentang jam antik, dengan dia sendiri menjadi editornya. Dalam hal ini seorang yang terinspirasi oleh pola dan gaya hidup underground maka dia akan membuat fanzine underground.

Fanzine underground bisanya berisikan artikel dalam bentuk kritik/malah terkadang tulisan serangan terhadap kebijakan pemerintah, budaya konsumerisme, kapitalisme, penindasan, lingkungan hidup, diskriminasi dan juga berisi info, interview dan review band dari kalangan underground yang dianggap oleh editornya menarik. Kadang juga ditambah dengan info info dari hobi mereka, tapi rata rata tetap dari sudut pandang counter-culture. Jika ia berbicara tentang komputer, maka ia menulis tentang teknik hack, jika ia membuat komik maka cerita cerita atau gambar yang dibuat tidak akan sama dengan yang muncul di komik-komik terbitan penerbit besar, sebagian besar berisi kritik sosial.

Zine mempunyai ciri-ciri, antara lain:
- Tidak mempunyai kantor redaksi, artinya mereka bisa beredaksi dimanapun mereka mau.
- Tidak ada tenggat waktu/deadline
- Karena dibuat dengan sistem DIY, maka jumlah eksemplarnya bergantung pada ‘isi saku’ dari redaksi/editor.
- Isi zine sangat sempit. Ada yang tentang melulu politik, anti-pemerintah, budaya, personal, lingkungan hidup, dll.
- Tidak ada batasan tentang bagaimana menulis yang baik dan benar. Semua ‘terasa’ sah-sah saja, bahkan pernah ditemui umpatan-umpatan jorok pun terasa manis didengar..J
- Biasanya lahir dari sebuah komunitas meskipun ada juga yang dilahirkan dengan mandiri.
- Biasanya anti-copyright/anti hakcipta, artinya pembaca boleh menggandakan seberapa dia mau.

Kategori zine menurut isinya, dibagi menjadi:
1. Zine yang seluruh isinya dibuat atau ditulis sendiri oleh editor atau sebelumnya belum pernah dipublikasikan di media lain.
2. Zine yang sebagian isinya dibuat sendiri dan sebagian lagi hasil mengambil artikel dari sumber lain yang sudah ada sebelumnya.
3. Zine yang seluruh isinya hasil dari mengumpulkan dari sumber lain.

Kategori zine menurut kemasannya, dibagi menjadi:
1. Zine dengan format fotokopian. Bentuk yang paling banyak dijumpai. Bentuk ini memperbanyak eksemplar melalui foto kopi.
2. Zine dengan format stensilan. Zine ini dicetak mengggunakan alat cetak yang bernama stensil, biasanya sampul dibuat berwarna, tetapi halaman isi distensil hitam putih.
3. Zine dengan format full-colour. Bentuk yang paling bergaya, biasanya memakai kertas yang bagus dan kualitas cetak offset yang tinggi.

Tentang Foto Kopi
Karena biasanya pembuat zine berpendapat bahwa informasi itu harusnya gratis disebarluaskan maka mereka tidak pernah dipusingkan oleh copyright, dan dengan sukarela membagi tulisannya dengan zine lainnya, bahkan merelakan zine mereka digandakan lagi oleh pihak lain tanpa meminta balas jasa materi.
Tapi biasanya juga mereka beretika dengan menuliskan sumber sumber tulisan tersebut. Dan jarang sekali mereka mengambil tulisan dari media media mainstream yang memberi copyright pada tulisan tulisan mereka. Dan zine- zine yang sudah menjadi lebih besar dan bahkan bisa menembus pasaran (seperti ripple contohnya) akan membentuk tim penulis sendiri, beberapa zine yang terhitung kecil juga ternyata memiliki tim editorial sendiri dan tidak membuat zine sendirian.

Di Indonesia sendiri fenomena zine ini juga cukup berkembang pesat sejak beberapa tahun terakhir, bahkan beberapa kali menjadi topik artikel di media media mainstream yang. Tapi sayangnya perkembangan pesat itu seakan hanya meledak sebentar dan hilang. Jika tahun-tahun dulu ditemukan dalam sebulan ada 5-10 judul zine, maka pada tahun ini merosot tajam, paling-paling 2 judul zine sudah bagus. Hal ini sangat disayangkan karena dapat menjadi indikasi bahwa budaya menulis dan membaca kembali surut. Yang mungkin juga diakibatkan tidak lancarnya regenerasi para editor editor zine sebelumnya.

Diluar konteks zine sebagai media propaganda, keberadaan zine-zine ini juga sangat berguna sebagai penanda bahwa budaya menulis dan berargumentasi bertumbuh dan berkembang secara positif dikalangan underground, yang juga menunjukkan bahwa sebenarnya mereka termasuk golongan yang terpelajar-baik melalui insitusi resmi sekolahan ataupun belajar secara otodidak. Jadi mereka para pembuat zine termasuk berjasa dalam berusaha meningkatkan budaya baca tulis bangsa ini secara umum dan anak anak muda yang berada dalam kalangan underground pada khusunya. Sehingga sangatlah disayangkan jika jumlah pembuat zine ini menurun pada waktu waktu belakangan ini.

(dari berbagai sumber)


KARAKTER SURAT KABAR


Merupakan salah satu media penyampai pesan yang mempunyai daya jangkau luas dan massal.
(Rhenald Kasali, 1992)

Surat Kabar bergantung pada:
1. Frekuensi terbit : Seminggu sekali (mingguan), Dua mingguan, Harian, dll.

2. Bentuknya : - Broadsheet, bentuk standar. Memiliki ukuran 8 dan 9 kolom ke samping.
- Young Broadsheet, bentuk baru. Memiliki ukuran 6 dan 7 kolom.
- Tabloid. Biasanya 5 dan 6 kolom dengan tinggi sekitar 35 cm.
* di beberapa negara maju dan di Indonesia sendiri, konsep surat kabar dengan bentuk tabloid (6 kolom-an) sudah ada. Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group, berpendapat bahwa untuk membedakan koran atau tabloid tidak melulu dilihat dari ukuran koran atau bentuknya, melainkan dari sifat isi beritanya. Tabloid dari sifatnya tentu saja lebih ringan daripada surat kabar.

3. Sirkulasinya : Nasional atau Lokal/Regional. Nasional bila aspek redaksionalnya dipusatkan di kota besar (bukan hanya ibu kota) yang menjadi markas besar perusahaan penerbitnya dan didistribusikan di seluruh pelosok masyarakat.

4. Sifat dan kategori produk: produk yang biasa dibeli dengan tingkat keterlibatan rendah (low involvement) tidak cocok beriklan di surat kabar. Perlu diperhatikan disini ukuran tampilan iklan dan warna iklan sebagai daya tarik audience.

5. Format isinya/jenis : Ekonomi, politik, olahraga, dsb.

6. Kelas sosial pembaca :
- Highbrow newspaper (quality): surat kabar untuk golongan masyarakat menengah ke atas.
- Boulevard Newspaper (popular): surat kabar untuk golongan masyarakat menengah ke bawah.

Kekuatan Surat Kabar
- Market coverage tinggi. Mampu sampai ke pelosok daerah serta mempunyai distribusi yang fleksibel.
- Harga relatif murah, sehingga mampu dikonsumsi oleh segala lapisan masyarakat.
Comparison Shopping (catalogue product). Kebiasaan audience sebelum belanja selalu memperhatikan koran sebagai referensi.
- Karakter yang kuat, karena memiliki berita-berita yang aktual sesuai dengan perkembangan pemikiran masyarakat yang semakin dewasa.
- Mempunyai target pasar sendiri sesuai dengan khalayak pembacanya.
- Dapat dibeli tanpa harus menjadi pelanggan/eceran.
- Ada ruang beriklan/space yang khusus buat produk.
- Fleksibel ketika menjadi bagian dari iklan produk.

Kelemahan Surat Kabar
- Clutter. Tidak beraturan ketika produk dan berita bersanding.
- Short life span. Koran dibaca dalam waktu yang singkat dan cepat. Koran hari minggu biasanya lebih berat daripada hari lainnya, karena tingkat membaca lebih cepat daripada hari biasanya.
- Limited coverage of certain groups. Meski sirkulasi luas namun tetap saja kelompok pasar tertentu tidak bisa terlayani dengan baik.
- Kualitas cetak buruk. Berpengaruh pada iklan produk yang dibuat.
- Medium statis, karena tidak dilengkapi dengan audio video.
- Sering terjadi kesalahan cetak.

(dari berbagai sumber)

MEDIA


Dalam berkomunikasi secara visual, hal yang paling penting adalah dimana dia nantinya akan ditempatkan.
Karena itu diperlukan yang namanya MEDIA. Media dalam komunikasi visual sangatlah beragam. Akhir-akhir ini bahkan ditemui banyak sekali media dengan bentuk yang juga beragam.

Media Vs Sarana
MEDIA: Metode komunikasi umum yang membawa pesan.
Misalnya: TV, Surat Kabar, Majalah, dll.

SARANA: pilihan program atau siaran di mana pesan akan dipasang.
Misalnya: TransTV, Indosiar, MTV, A+, Aneka, dll.

Dalam dunia periklanan dikenal istilah Above The Line (ATL) dan Below The Line (BTL).
ATL menurut Frank Jeffkins (Periklanan, 1997:86) merupakan media yang berhak mengatur pengakuan dan pembayaran komisi kepada biro-biro iklan, sedangkan BTL tidak memberikannya.
Artinya, biro iklan tidak berhak menerima komisi dari biaya operasional dari media-media BTL.

Perbedaan lainnya terletak pada sifat media itu sendiri. Sifat ATL merupakan media ‘tak langsung’ yang mengenai audience, karena sifatnya yang terbatas pada penerimaan audience. Sedangkan BTL media yang ‘langsung’ mengena pada audience karena sifatnya yang memudahkan audience langsung mencerap satu produk/pesan saja.

Media ATL, antara lain: Surat kabar, Majalah, Televisi, Radio, Media luar ruang (outdoor), Bioskop, dll.
Media BTL, antara lain: directmail, katalog, Point of Purchase, Pameran, brosur, dll.

MEDIA PRIMER DAN SEKUNDER VS ATL DAN BTL
ATL maupun BTL berbeda artinya dengan media primer dan sekunder. Media primer adalah media yang diutamakan dalam sebuah kampanye iklan sedangkan media sekunder adalah media-media yang sifatnya menunjang atau melengkapi.
Televisi bisa menjadi media sekunder bila ternyata brosur lebih efektif dijadikan media primer…begitu juga sebaliknya!

Sekarang yang lagi hangat dibicarakan di kalangan periklanan adalah media baru yang namanya Through The Line (TTL). TTL merupakan media yang sifatnya menetap dan menyesuaikan dengan media di sekeliling dia, sifatnya juga langsung berinteraksi dengan audience...mempunyai daya stopping power yang kuat.

Namun yang diingat adalah semua media ada kekuatan maupun kelemahannya. Jadi tidak bisa menunjuk pada satu media saja yang kita anggap sempurna atau efektif, semua tergantung pada strategi dalam melakukan proses perencanaan media.



(dari berbagai sumber)